Zona Teman Part I


Sahabat, orang bilang sahabat itu adalah mereka yang tahu ketika kamu bersedih atau terluka, bahkan jika kamu menyembunyikan semua di balik senyuman. Semua orang pasti memiliki teman dekat. Cewek dengan cewek. Cowok dengan cowok. Atau mungkin cewek dengan cowok. Banyak yang mengatakan bahwa persahabatan antara cowok dan cewek adalah sebuah ketidakmungkinan. Padahal bisa saja mereka berteman baik asalkan tidak ada ketertarikan romantis didalamnya. Namun itu sulit. Aku sudah mencobanya.

Berteman akan ada tawa, sedih, moment, cerita, bahkan semuanya bareng. 24/7 hari-hari kamu terisi oleh dia. Chattingan sama dia. Jalan sama dia. Makan sama dia. Ngerjain tugas sama dia. Ngurus organisasi sama dia. Tidak ada celah untuk tidak bersama. Terlebih jika sama-sama sendiri.

Baik aku akan mengulas tentang dia. Dia sahabat laki-laki ku yang sangat aku sayangi.

Kami sudah saling kenal sejak 4 tahun lalu dimana kami satu perguruan tinggi di daerah ibu kota bahkan kami satu kelas. Awalnya aku tidak tertarik mengenal dia. Dia yang berisik, perokok, dan jahil. Perokok adalah satu alasan aku tidak menyukainya. Saat itu kelas kami sedang mengadakan pertemuan untuk membahas susunan organisasi dan itu saat siang hari. Waktu makan siang bagi ku harus tepat waktu, sembari mendengarkan argumentasi antar mahasiswa/i aku mulai membuka kotak nasiku. Di situlah nggak lama dia datang dengan mengeluarkan batang rokoknya yang siap dibakar. Kotak nasi pun aku tutup kembali. Dia yang tepat di sampingku hanya tersenyum santai sambil menghisap rokoknya.

"udah berapa lama ngerokok?" tanyaku ketus sambil menatap matanya.

"lamaaaa banget, kenapa?" ucapnya santai.

"gak takut mati?" kembali aku serang dengan pertanyaan menusuk namun dia hanya tertawa.

"mati mah pasti, tapi ngapain takut.. bokap gue bahkan kakek gue juga perokok" jelasnya.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum paksa. Aku pun menanyakan berapa lama biasanya ia merokok.

"hmm suka-suka gue, kenapa? mau makan ya? yaudah makan dah..." ucapnya sambil membuang putung rokok yang baru setengah dia hisap.

"gapapa? gue ga suka kalo mau makan ada yang ngerokok di deket gue" jawabku sambil perlahan membuka tutup kotak nasi.

"silahkan..." jawabnya dan kemudian pergi.


Orang itu membiarkan batang rokok yang belum habis terbakar terbuang begitu saja. Setelah percakapan itu aku mulai overthinking. Beberapa hari kemudian kami berkenalan.

"Samudera, panggil aja Dera" ucapnya sambil mengulurkan tangan.

"Anjani, panggil aja Jani" ucapku sambil membalas ulurannya.

Selama satu semester kami sebatas teman satu kelas yang tau nama dan wajah. Tidak ada yang spesial bahkan yang dapat diceritakan karena memang saat itu kami masih saling jauh.

Kenaikan semester dua kami mulai mengobrol, bercanda, dan mulai menjadi rekan PJ (Penanggung Jawab).

"Jan, gue saranin elu punya rekan laki-laki.. karna bagian ini butuh tenaga laki-laki. Gimana?" Nisa selaku sekertaris kelas menghampiri aku.

"gue males sih kalo sama cowok, tapi gue ngikut aja dah" jawab aku yang memang kurang menyukai memiliki rekan kerja laki-laki.

"mau Nadir? atau Abi? atau Awan? mau siapa? mumpung belum ada yang ngetap" Nisa menyebutkan hampir seluruh nama laki-laki di kelas membuat aku tertawa.

"hahahaha.. eummm, Nadir nurut sih tapi harus digertak, Abi pendiem ah ga mau, Awan ganjen. Ga ada yang lebih baik. Atau gue sen--"

"OKE DERA? GIMANA?" jawaban mengejutkan dari Nisa membuat aku menepuk jidat.

"Dera aktif sih yaa ga perlu disuruh juga dan dia tau harus apa.. tapi..."

Nisa memeluk lengan kanan ku "udah lah dia baik kok, Dera aja ya?"

"baiklah.. okeh, hanya satu semester kan? not bad lah" jawabku sambil mengangguk.

Nisa melepas pelukannya dan melanjutkan perkerjaannya sebagai sekertaris andalan kelas.


Semester dua menjadi awal dari kedekatan kami. Terlebih tanggung jawab ini harus banyak menghabiskan waktu bersama. Mata kuliah sitohistoteknologi adalah ilmu yang mempelajari tentang preparasi (mempersiapkan) sel-sel dan jaringan tubuh sampai menjadi sediaan mikroskopis (dibaca dengan alat mikroskop). Kami menjadi penanggung jawab mata kuliah tersebut. Berat bukan?

"mau beli kodok kapan?" Dera memberi satu pertanyaan yang tiba-tiba di telinga aku.

"maksudnya katak?" jawab aku sambil menoleh dan menatap Dera.

Dera menarik kursi mendekati kursi aku. "yap.. ayo cari bareng"

Aku melihat semua teman-teman sudah keluar dari kelas, hanya tinggal kami berdua. Nisa pun tidak sadar bahwa aku masih di kelas bersama Dera, dia keluar kelas begitu saja.

"ga bisa nanti aja dibahasnya? gue mau istirahat" jawab aku.

"okeh, kabarin aja ya" Dera menjawab dengan hangat ditambah senyum manisnya.

Sembari memasukkan buku-buku ke dalam tas, aku mengangguk permintaan Dera. Dera beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu keluar.

"tapi buatin grup angkatan dulu ya" ucapku kepada Dera.

Dera menoleh dan menjawab "okeh"

Aku menghela nafas dan tersenyum simpul. Menyadari bahwa rekannya tidak sepasif dan tidak seburuk yang dibayangkan. Aku menelpon Nisa dan beranjak menghampiri Nisa di kantin.

Satu bulan

Dua bulan

..

...

....

.....

Enam bulan berlalu


Kedekatan kami mulai terasa setelah 6 bulan bersama menjadi rekan penanggung jawab. Kami sering hangout bersama untuk sekedar menikmati diskonan makanan instan di mall-mall ibu kota. Sering bertukar cerita melalui video call sampai larut malam. Belajar bersama di perpustakaan kampus. Mencari kebutuhan praktek sampai bolak-balik Jatinegara di tengah hirukpikuk jalanan. Aku mulai merasakan hal yang seharusnya aku jauhkan. Aku mulai merasa nyaman. Nyaman kepada seseorang yang tidak aku harapkan sebelumnya.

Hari-hari masih aku lewati tanpa memandang perasaan. Sikap dia yang membuat aku aman menjadi alasan aku ingin selalu dekat dengannya. Lulusnya kami naik ke tingkat 2 membuat aku harus terus bangkit menjadi pribadi yang berkualitas karena setelah lulus dari perkuliahan aku akan menjadi wanita dewasa sesungguhnya. Eskrim adalah andalan dia dalam merajukku. Dia memberikan aku eskrim karna ingin menjadi rekan kembali di semester ini. Lucunya dia saat merajuk.

"gue sama elu lagi ya.. gue ikut aja dah mau jadi PJ yang mana asalkan sama elu" ucapnya sembari memberikan sekantong plastik berisi eskrim cokelat.

"lu nyogok gue..... lagi? ya ampun" aku tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya.

"yaaaa kan biar lu ga sama yang lain gitu, gue gamau partneran sama yang lain Jan. Maunya elu" jelasnya sambil meletakan kantong tersebut di atas mejaku.

Ucapan Dera yang aku serap seperti mengandung makna. Ucapannya sangat berambigu. Namun, tidak mungkin yang dimaksud Dera seperti yang aku maksud. Dera sangat pintar melanturkan bahasa untuk membujuk aku. Terlebih ucapannya yang sangat manis. Orang seperti Dera sangat berbahaya.

"yeeee malah ngegembel, yaudah sih tinggal minta Nisa lhooo"

"katanya nunggu persetujuan dari lu Jan.. oke" jawabnya sambil menaik turunkan alisnya.

Aku mengangguk. Dera pun mengelus kepalaku dan beranjak pergi.

"kebiasaan.." cibirku melihat kelakukan dia.

Aku kembali fokus dengan buku catatan ku namun terhalang oleh sekantong plastik eskrim pemberian Dera. Plastik tersebut aku buka dan berisi eskrim cokelat kesukaanku. Senyumku kembali terpancar akibat kelakuan manisnya kemudian menggeleng sembari meletakkan eskrim tersebut di meja sebelah.

Bagiku catatan setiap matakuliah harus rapi karena belajar akan lebih semangat jika materi yang kita baca tidak semrawut. Tidak jarang catatanku menjadi catatan bersama di kelasku. Saat akan ujian pasti teman-teman akan mengantri untuk fotocopy catatanku atau ponselku terus berdering hanya untuk meminta foto catatanku.

Dera. Nama tersebut menjadi paling atas disetiap aplikasi sosial media ku. Terlebih menjadi kontak teratas di aplikasih chattinganku. Dia menjadi orang yang paling sering aku hubungi. Log panggilan berisi namanya. Chat berisi namanya. Notifikasi sosial media berisi namanya. Di kampus pun bersama dengannya. 24 jam hampir semuanya Dera Dera Dera.

Di tahun kedua akan ada seleksi pengurus organisasi. Aku sudah merencanakan untuk ikut seleksi tersebut. Ada organisasi yang menjadi targetku. Kali ini aku harus keluar dari zona dan memberanikan diri menjadi yang terbaik. Mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas, BEM-Fakultas, Himpunan, hingga organisasi eksternal kampus aku ikuti semua guna menambah pengalamanku dalam dunia organisasi.

Awal dari perjalanan ini aku langsung gagal masuk BEM Universitas. Semangatku turun. Aku merasa diriku ga cocok masuk organisasi. Overthinking adalah kerja sampingan perempuan. Setelah hari pengumuman itu aku menjadi sedikit kurang semangat. Melamun seperti kambing menjadi hobiku saat itu.

drrttt..drrtt...

Aku mengambil ponsel dan mendapati nama Dera di ponselku.

"Dera?"

"ngapain dia nelponn? jawab jawab" ucap Nisa yang tidak sengaja melihat layar ponselku.


Halo Der

Tap in bangku ya

Mau dimana?

Samping lu lah

Astagfirullah.. iya

Kok istigfar??

Chat kan bisa

Hari ini belum nelpon elu. Okeh tap in ya

Iya


Tanpa basa basi aku menaruh tas ke bangku kosong disebelahku kemudian menjelaskan kepada Nisa. Nisa hanya mengangguk dan melanjutkan gamenya.


Sekitar 15 menit kemudian Dera sampain di kelas. Ia melambaikan tangan dan bergegas menuju kami. Berjalan mendekati bangku sembari melepaskan tasnya.

"makasih ya" ucap Dera dan aku hanya mengangguk.

Melihat keringat mengalir di pelipisnya membuat tanganku gatal untuk mengambil tisu. Aku bersihkan keringat di pelipisnya membuat Dera berhenti bergerak. Mata kita bertatapan dengan tanganku yang masih memegang tisu.

"lu abis lomba lari ya?" tanyaku sambil menyundul pelipisnya menggunakan tisu.

"eumm.. naik tangga dan lari sih. Makasih"

"hmm masama" jawabku.


Aneh. Aku tidak merasakan hal yang spesial. Masih sama seperti sebelumnya.

"eh iya lu ga ikut BEM?" tanya Dera sembari menyalakan ponselnya dan mengklik aplikasi gaming.

"enggak, masih sakit hati" jawabku sambil merapihkan catatan.

"gue keterima, tapi maunya masuk himpunan"

"kenapa gitu?" jawabku yang masih sibuk merapihkan catatan.

"katanya lebih aktif himpunan. Daftar Jan, gue juga daftar. Nanti berangkat bareng seleksinya" ajaknya.

"tuh ikut sana, katanya lu mau ikut organisasi Jan" Nisa ikut membujuk aku.

"yaudah oke, kapan?"


Aku mulai bangkit untuk seleksi masuk organisasi mahasiswa. Aku latihan menjawab pertanyaan hingga latihan presentasi diri. Hari seleksi himpunan berada setelah seleksi organisasi eksternal mahasiswa.

Pengumuman organisasi eksternal pun juga sudah keluar. Hasilnya aku lolos masuk Ikatan Mahasiswa Profesi Indonesia. Hari demi hari sudah terlewati. Di malam hari seleksi himpunan pun datang dan tiba-tiba aku menjadi ragu. Aku sudah diterima di 1 organisasi terpandang tapi aku juga harus menempati janjiku kepada Dera untuk bersama datang seleksi himpunan. Kami datang terakhir dan di sana sudah banyak puluhan mahasiswa yang mendaftar. Jadwal kami mundur menjadi sore akibat banyaknya peminat.

Aku mendapat urutan 32 dan Dera 31. Sedangkan saat kami datang masih di urutan 7. Akhirnya aku berniat untuk makan terlebih dahulu. Saat turun ke kantin aku bertemu kaka tingkat bernama Putra.

"eh" panggilnya dan aku menoleh.

"aku?"

"kamu bukannya yang daftar Ikatan Mahasiswa Profesi kemarin ya?" tanyanya sambil menatapku.

"betul ka, kan kaka yang interview saya"

Putra pun mengangguk "ikut seleksi himpunan juga?"

Gantian aku yang mengangguk.

Putra tersenyum dan ikutan mengangguk "okeh good luck" bergegas lah dia naik tangga meninggalkan aku begitu saja.

Aku mengedikkan pundak dan kembali bergegas jalan untuk ke kantin.


Ponselku berdering terlihat nama Dera.


Halo Der

Jan, nanti pulang kayaknya gue ga bisa nganter lu--

Gapapa, santai aja

Oke




Apa yang terjadi dan bagaimana kelanjutannya? Next part yaaaa....




Comments